Home / Blog / Dikira Punah 66 Juta Tahun Lalu, Hewan I...

Dikira Punah 66 Juta Tahun Lalu, Hewan Ini Ditemukan di Indonesia

Dikira Punah 66 Juta Tahun Lalu, Hewan Ini Ditemukan di Indonesia Blog

Hewan yang Dikira Punah 66 Juta Tahun Lalu Ditemukan di Indonesia: Kisah Ikan Purba Coelacanth

Di kedalaman laut Indonesia ternyata masih ada hewan yang oleh banyak ilmuwan diyakini telah punah sejak 66 juta tahun lalu. Makhluk itu adalah coelacanth, ikan purba yang sering dijuluki sebagai "fosil hidup". Penemuannya di perairan Sulawesi Utara menjadi salah satu kejutan terbesar dalam dunia kelautan.

Kabar ini kembali mengingatkan kita bahwa lautan nusantara menyimpan banyak misteri. Bahkan di tengah modernisasi, alam liar masih bisa membuat ilmuwan tercengang.

Dari Anggapan Punah hingga Kemunculan Kembali

Coelacanth bukan ikan biasa. Ikan ini sudah hidup di bumi sejak sekitar 400 juta tahun lalu, jauh sebelum dinosaurus menguasai daratan. Namun di akhir zaman Cretaceous, sekitar 66 juta tahun lalu, coelacanth tiba-tiba menghilang dari catatan fosil.

Sejak itu, banyak ahli meyakini bahwa coelacanth ikut punah bersama sebagian besar reptil raksasa. Tidak ada yang membayangkan ikan itu masih hidup di suatu tempat.

Semua berubah pada 1938, ketika seekor coelacanth secara tidak sengaja tertangkap oleh nelayan di Afrika Selatan. Dunia sains pun gempar. Ikan yang selama puluhan juta tahun dianggap lenyap, ternyata masih berenang di lautan.

Penemuan Coelacanth di Indonesia

Setelah Afrika, giliran Indonesia yang membuat heboh dunia. Pada 1997, sepasang peneliti asal Amerika Serikat melihat ikan aneh di pasar ikan Manado, Sulawesi Utara. Ikan itu ternyata coelacanth yang belum pernah tercatat di kawasan Asia.

Menariknya, ikan yang sempat mereka lihat tidak bisa diselamatkan karena sudah dijual. Namun setahun kemudian, atau tepatnya pada 1998, seekor coelacanth tertangkap kembali di sekitar perairan Manado dan bisa diteliti lebih lanjut.

Jenis coelacanth dari Indonesia ini akhirnya diberi nama ilmiah Latimeria menadoensis. Nama "menadoensis" diambil dari tempat penemuannya, yaitu Manado.

Fakta Unik Coelacanth yang Bikin Kagum

Coelacanth memang memiliki banyak keunikan yang tidak dimiliki ikan modern. Penampilannya saja sudah berbeda:

  • Siripnya besar, tebal, dan tersusun seperti lobus atau daging.
  • Ia mampu bergerak seperti makhluk berkaki di dasar laut.
  • Matanya bisa menangkap cahaya di kegelapan laut dalam.
  • Berdasarkan temuan, coelacanth bisa mencapai panjang lebih dari 1,5 meter.
  • Warnanya kebiru-biruan dengan bercak putih khas.

Coelacanth dikenal sebagai ikan nokturnal. Pada siang hari, ia bersembunyi di gua-gua karang yang dalam. Baru pada malam hari ia keluar untuk mencari makan. Gerakannya pun tidak terburu-buru, cocok dengan citra ikan purba yang tenang.

Tidak heran jika banyak orang menyebutnya sebagai fosil hidup. Namun perlu dicatat, sebutan ini bukan berarti coelacanth tidak berevolusi sama sekali. Hanya saja, bentuk dasar tubuhnya dipertahankan selama jutaan tahun.

Mengapa Penemuan Ini Begitu Bernilai?

Penemuan coelacanth di Indonesia mengubah peta persebaran hewan purba ini. Dulu para ilmuwan mengira coelacanth hanya ada di perairan Afrika. Ternyata perairan Sulawesi juga menjadi rumah bagi ikan ini.

Bagi Indonesia, temuan ini seperti harta karun ilmiah. Ia menempatkan nusantara sejajar dengan Afrika dalam hal kekayaan biodiversitas purba. Hal ini tentu menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar untuk menjaga habitatnya.

Ancaman dan Upaya Konservasi

Sayangnya, status coelacanth saat ini tidak aman. Ikan ini termasuk spesies terancam punah. Persebarannya yang terbatas dan populasinya yang sedikit membuatnya sangat rentan.

Di perairan Bunaken dan sekitarnya, coelacanth berada di kawasan yang kini menjadi taman nasional laut. Namun bukan berarti ia terbebas dari ancaman. Hasil tangkapan sampingan nelayan, kerusakan terumbu karang, serta perubahan suhu laut bisa mengganggu kelangsungan hidupnya.

Oleh karena itu, perlindungan terhadap coelacanth tidak hanya tugas pemerintah. Masyarakat, nelayan, dan peneliti juga harus bekerja sama menjaga laut Sulawesi agar makhluk purba ini tidak benar-benar hilang untuk kedua kalinya.

Kesimpulan

Kehadiran coelacanth di Indonesia adalah bukti bahwa bumi masih menyimpan keajaiban yang belum semuanya kita kenali. Ikan yang dianggap punah 66 juta tahun lalu ternyata hidup berdampingan dengan kita di perairan Sulawesi.

Kita patut berbangga, tetapi juga perlu lebih peduli. Menjaga laut Indonesia sama dengan menjaga warisan kehidupan tertua di dunia. Siapa lagi yang mampu menjaga kalau bukan kita?